Aspek Kohesi Wacana
A. Hakikat Kohesi
Salah satu aspek
yang penting dalam wacana yaitu aspek kohesi. Kohesi yaitu aspek yang
menjalankan keterkaitan kalimat dengan kalimat, paragraf dengan paragraf, atau bab dengan bab dalam sebuah wacana. Keterkaitan antarkalimat ditandai dengan
adanya unsur-unsur gramatikal atau semantik secara eksplisit. Kohesi dijelakan
oleh Hasan Alwi sebagai
berikut: “Kohesi merujuk pada keterkaitran antarproposisi yang secara eksplisit
diungkapkan oleh kalimat-kalimat yang digunakan.
Seperti dalam
kelompok kalimat berikut:
A : Kapan datang?
B : (saya datang) tadi malam
Kalimat yang
menyatakan proposisi mengenai kapan seseorang datang disebut dengan proposisi
mengenai waktu kedatangan orang itu. Keterkaitan ini dinyatakan dalam dua kalimat yang secara gramatikal berkaitan. Lebih dijelaskan lagi mengenai
kohesi yaitu mengenai “Hubungan perkaitan antarproposisi yang dinyatakan secara
eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana.
Sebsagai contoh
terdaat pada kalimat-kalimat berikut :
(1)
A :
Apa yang dilakukan si Ali?
(1)
A :
Apa yang dilakukan si Ali?
B : Jahanam itu memukuli istrinya.
Proposisi yang
dinyatakan oleh A pada (1) berkaitan
dengan proposisi yang dinyatakan oleh B dan perkaitan tersebut diwujudan dalam
bentuk pemakaian pronomina dia yang
merujuk ke si Ali. Pada (2) perkaitan
itu dinyataka dengan frasa jahanam itu yang dalam konteks normal mempunyai rujukan
yang sama yakni dilakukan dan memukuli yang mempunyai kesinambungan
makna.
Pengertian kohesi
dijelaskan oleh Achmad sebagai berikut : Kohesi wacana menyatakan perpautan
bentuk atara satu kalimat dengan kalimat-kalimat berikutnya. Hubungan antara
kalimat itu membentuk keutuhan wacana.
Kohesi dijelasan
pula oleh Ramlan sebagai kepaduan kalimat di bidang bentuk yang berupa unsur-unsur
kebahasaan. Unsur-unsur kebahasaan menghubungkan kalimat-kalimat menjadi sebuah
paragraf disebut sebagai penanda hubungan antarkalimat atau disingkat penanda hubungan.
Unsur-unsur yang
dimaksud dapat berupa penghubung antar kalimat atau disebut sebagai alat
kohesi. Pendapat di atas dapat dilanjutkan oleh pendapat Pranowo
mengenai hubungannya dalam wacana yaitu: “Hubungan antarkalimat dikatakan
kohesif apabila suatu kalimat memiliki keruntutan hubungan
struktur antarkalimat. Kalimat yang kohesif dapat dilihat dari hubungan struktur antarkalimat
atau struktur sintaksis (wacana).
Lebih lanjut
menurut Hasan Lubis hubungan kohesi adalah “Relasi yang erat yang harus ada
sebuah wacana.”18 Baik atau
Tidaknya sebuah wacana harus memiliki unsur kohesi didalamnya. Apabila tidak
terdapat unsur kohesi maka wacana tersebut tidak baik atau tidak padu.
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa kohesi
wacana menyatakan keterpaduan atau perpaduan bentuk yang berupa unsur-unsur kebahasaan
atau keterkaitan antarproposisi secara esplisit antarsatu kalimat dengan
kalimat berikutnya.
continued
No comments:
Post a Comment