Friday, 3 June 2016

ASPEK KOHESI WACANA

Aspek Kohesi Wacana

A. Hakikat Kohesi

Salah satu aspek yang penting dalam wacana yaitu aspek kohesi. Kohesi yaitu aspek yang menjalankan keterkaitan kalimat dengan kalimat, paragraf dengan paragraf, atau bab dengan bab dalam sebuah wacana. Keterkaitan antarkalimat ditandai dengan adanya unsur-unsur gramatikal atau semantik secara eksplisit. Kohesi dijelakan oleh Hasan Alwi sebagai berikut: “Kohesi merujuk pada keterkaitran antarproposisi yang secara eksplisit diungkapkan oleh kalimat-kalimat yang digunakan.
Seperti dalam kelompok kalimat berikut:
A : Kapan datang?
B : (saya datang) tadi malam
Kalimat yang menyatakan proposisi mengenai kapan seseorang datang disebut dengan proposisi mengenai waktu kedatangan orang itu. Keterkaitan ini dinyatakan dalam dua kalimat yang secara gramatikal berkaitan. Lebih dijelaskan lagi mengenai kohesi yaitu mengenai “Hubungan perkaitan antarproposisi yang dinyatakan secara eksplisit oleh unsur-unsur gramatikal dan semantik dalam kalimat-kalimat yang membentuk wacana. 
Sebsagai contoh terdaat pada kalimat-kalimat berikut :
(1)         A : Apa yang dilakukan si Ali?
                     B : Dia memukuli istrinya.

(1)         A : Apa yang dilakukan si Ali?
B : Jahanam itu memukuli istrinya.
Proposisi yang dinyatakan oleh A pada (1) berkaitan dengan proposisi yang dinyatakan oleh B dan perkaitan tersebut diwujudan dalam bentuk pemakaian pronomina dia yang merujuk ke si Ali. Pada (2) perkaitan itu dinyataka dengan frasa jahanam itu  yang dalam konteks normal mempunyai rujukan yang sama yakni dilakukan dan memukuli yang mempunyai kesinambungan makna.
Pengertian kohesi dijelaskan oleh Achmad sebagai berikut : Kohesi wacana menyatakan perpautan bentuk atara satu kalimat dengan kalimat-kalimat berikutnya. Hubungan antara kalimat itu membentuk keutuhan wacana.
Kohesi dijelasan pula oleh Ramlan sebagai kepaduan kalimat di bidang bentuk yang berupa unsur-unsur kebahasaan. Unsur-unsur kebahasaan menghubungkan kalimat-kalimat menjadi sebuah paragraf disebut sebagai penanda hubungan antarkalimat atau disingkat penanda hubungan.
Unsur-unsur yang dimaksud dapat berupa penghubung antar kalimat atau disebut sebagai alat kohesi. Pendapat di atas dapat dilanjutkan oleh pendapat Pranowo mengenai hubungannya dalam wacana yaitu: “Hubungan antarkalimat dikatakan kohesif apabila suatu kalimat memiliki keruntutan hubungan struktur antarkalimat.  Kalimat yang kohesif dapat dilihat dari hubungan struktur antarkalimat atau struktur sintaksis (wacana).
Lebih lanjut menurut Hasan Lubis hubungan kohesi adalah “Relasi yang erat yang harus ada sebuah wacana.”18  Baik atau Tidaknya sebuah wacana harus memiliki unsur kohesi didalamnya. Apabila tidak terdapat unsur kohesi maka wacana tersebut tidak baik atau tidak padu.
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa kohesi wacana menyatakan keterpaduan atau perpaduan bentuk yang berupa unsur-unsur kebahasaan atau keterkaitan antarproposisi secara esplisit antarsatu kalimat dengan kalimat berikutnya.
continued







No comments:

Post a Comment